

Pada abad XVII Putri SULTAN KARTOSURO menderita sakit dan sudah berbagai macam tabib selalu gagal menyembuhkanya, sampai kemudian sang raja bermimpi kalau putrinya bisa sembuh bila minum jamur batu, kemudian diceritakanya pada staff raja, maka dibuatlah pengumuman barang siapa yg dapat menemukan jamur batu maka dapat hadiah dari Raja, suatu ketika di bulan Januari 1720 seorang lurah bernama SADRANA melihat banyak burung masuk kedalam gua dipinggir pantai, kemudian sang lurah bersama penduduk setempat masuk kedalam goa dan mengambil benda berwarna putih seperti jamur batu yg dimimpikan sang raja yang menempel pada dinding gua, selanjutnya mereka mengambil benda berwarna putih tsb, kemudian diberikannya kepada SULTAN KARTOSURO,
Selanjutnya beliau memerintahkan untuk memasaknya kemudian diminumkan ke sang Putri. Beberapa hari kemudian sang Putri sembuh dari sakitnya, karena manfaat jamur batu itu maka sang Raja pun ikut mencoba untuk makan juga, yg akhirnya menjadi makanan terkenal kala itu, karena asal muasal jamur itu dari burung yg bersarang maka dinamai Sarang Burung, sejak saat itu sarang burung berkembang menjadi makanan kebanggaan para bangsawan dan Raja Raja.
Ketika Sarang Burung itu diperkenalkan juga pada para pedagang cina yg kemudian dibawa ke Tiongkok, ternyata digemari bangsawan dan Raja Raja Tiongkok juga,
Konon karena jasa Lurah SADRANA akhirnya sang Sinuwun Sultan KARTASURA berkenan mengangkat Lurah SADRANA menjadi Mantri Sarang Burung yg diberi hak untuk mengelola goa itu dan berkedudukan di desa Karang Bolong Kabupaten Kebumen Jawa Tengah, yg sampai sekarang Pendopo Lurah SADRANA tsb. dapat disaksikan bila kita bepergian kesana.
-
Sekitar Th 1880 seorang pengusaha bernama H. THOHIR SURAKAMA yg tinggal di Sidayu Gresik, Beliau seorang pengusaha, suatu ketika dia membeli rumah yg kemudian ditinggalkan untuk berangkat haji, karena pada saat itu orang berhaji masih menggunakan kapal laut maka perjalanan yang ditempuh bisa mencapai 7 bulan – 1 tahun lamanya, Sepulang dari haji beliau melihat rumah yang dibelinya dimasuki Burung Walet, kemudian diambilnya Sarang Burung Walet tsb, karena beliau adalah seorang pengusaha dan pedagang yang banyak kenalannya maka diceritakan penemuanya itu kepada rekan-rekan usahanya yang berada di Gresik, Surabaya, Semarang dllnya, maka setelah jelas yang ditemukanya itu adalah Sarang Burung Walet yang terkenal dan mahal itu maka beliau berinisiatif mengorbankan rumah yg baru dibelinya guna memelihara Burung Walet secara khusus,
Setelah beliau berhasil memelihara burung walet didalam rumah tsb, kemudian beliau membeli rumah lagi untuk digunakan sebagai rumah Sarang Burung Walet dan dg keahlian sangat sederhana dan tradisional beliau bisa memikat burung-burung Walet lain untuk masuk kedalam rumahnya, Rupanya pada saat itu bersamaan dg terjadinya migrasi atau perpindahan Burung Walet yg bermukim di goa menuju rumah Walet, perpindahan itu disebabkan terganggunya rasa aman Burung Walet ditempat kediamanya karena terjadi pemungutan atau pengambilan Sarang Burung yg seenaknya tanpa memperhatikan kelangsungan hidupnya sehingga lambat laun Burung Walet banyak yg kabur dan mencari habitat baru yg dirasa lebih aman, kemudian mereka mendapatkan rumah kuno kosong yang kondisinya seperti habitat di goa, kenyataanya dg. terjadinya migrasi itu terbukti dg berhasilnya upaya H. THOHIR SURAKAMA dalam mengembangkan beberapa rumah rumah kuno yang kosong guna dijadikan rumah-rumah Sarang Burung Walet, sampai akhirnya beliau mempunyai rumah Sarang Burung Walet sebanyak 25 rumah, rupanya keberhasilan beliau ditiru pula oleh rekan-rekan pengusaha beliau lainya dan sejak itu mulailah usaha Sarang Burung Walet tsb dikembangkan dirumah-rumah penduduk dari Sidayu, Gresik, Tuban, Lasem, Rembang, Semarang, Tegal, dllnya. H. THOHIR SURAKAMA beliau adalah kakek kami yg sampai sekarang sudah 5 generasi yg melanjutkan guna mengembangkan rumah Sarang Burung Walet hingga ratusan rumah Walet diseluruh Jawa timur.

